Share It

Senin, 03 Januari 2011

Granulasi Basah Tablet Parasetamol


BAB II
PREFORMULASI

II.1     Formulasi
Tiap tablet mengandung :
Fase dalam ( 92% )
Parasetamol                             250 mg
PVP                                         25 mg
Amprotab                                50 mg
Laktosa                                   135 mg
Etanol 95%                             qs.
Fase luar ( 8% )
Magnesium stearat                  4,34 mg
Talk                                         8,68 mg
Amprotab                                34,72 mg

II.2     Monografi
a.       Parasetamol / Asetaminofen
Pemerian                     : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan                      : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol ( 95% ) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida.
Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Khasiat & Kegunaan   : Analgetikum ; Antipiretikum.
              
b.      Polivinilpirolidon        
Nama dagang              : Kollidon atau Plasdon
Pemerian                     : Inert, sedikit higroskopis, tidak mengeras selama penyimpanan (baik untuk tablet kunyah).
Kelarutan                    : Larut air dan alkohol, digunakan dalam konsentrasi 3-15%, Tablet efervesen bisa dibuat menggunakan PVP dalam etanol anhidrat. Jangan menggunakan isopropanol anhidrat karena meninggalkan bau pada granul.
Kegunaan                    : Sebagai zat pengikat

c.       Laktosa
Pemerian                     : Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis. Stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau.
Kelarutan                    : Mudah ( dan pelan-pelan ) larut dalam airdan lebih mudah larut dalam air  mendidih ; sangat sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.
Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat & Kegunaan   : Zat tambahan sebagai zat pengisi

d.      Magnesium Stearat
Pemerian                     : Hablur halus, putih dan voluminous; bau lemah khas; mudah melekat dikulit; bebas dari butiran.
Kelarutan                    : Tidak larut dalam air, dalam etanol dan dalam eter.
Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan                    : Zat tambahan sebagai glidan

e.       Talk
Pemerian                     : Serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu. Berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran.
Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan                    : Zat tambahan sebagai glidan dan lubrikan



BAB III
TINJAUAN PUSTAKA


Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatannya, dapat diklasifikasikan sebagai tablet atau tablet kompresi .(USP 26, Hal 2406)
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (FI IV, Hal 4)

III.1  Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.   Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
2.   Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3.   Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4.   Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5.   Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6.   Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7.   Bebas dari kerusakan fisik;
8.   Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9.   Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

III.2  Keuntungan Sediaan Tablet
Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
1.   Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih
2.   Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis
3.   Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan
4.   Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil.

Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan, antara lain :
1.   Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.
2.   Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah.
3.   Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil.
4.   Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil.
5.   Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
6.   Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet.
7.   Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul.
8.   Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi.
9.   Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya produksinya lebih rendah.
10. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.

III.3 Kerugian Sediaan Tablet
Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya beberapa kerugian, antara lain :
1.   Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak sadar/pingsan);
2.   Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
·         Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis.
·         Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa).
·         Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.

Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian sediaan tablet jauh lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak dijumpai di perdagangan.

III.4  Keseragaman Kandungan (FI IV hlm.999)
Dilakukan bila :
·         Kadar bahan aktif dibawah 50 mg
·         Bila perbandingan kadar bahan aktif dengan bobot tablet lebih kecil dari pada 50%

III.5  Jenis Sediaan Tablet  
Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas :
a.      Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk/granul menggunakan pons/cetakan baja.
b.      Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan

III.6  Metode Pembuatan Tablet
Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya.
·         Granulasi Basah, yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering  ke dalam campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka  massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.
Keuntungan metode granulasi basah :
·         Memperoleh aliran yang baik
·         Meningkatkan kompresibilitas
·         Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
·         Mengontrol pelepasan
·         Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses
·         Distribusi keseragaman kandungan
·         Meningkatkan kecepatan disolusi
Kekurangan metode granulasi basah:
·         Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi
·         Biaya cukup tinggi
·         Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air

III.6.1  Bahan Pembantu Granulasi Basah
A.                Pengisi
Adalah zat inert yang ditambahkan dalam formula tablet yang ditujukan untuk membuat bobot tablet sesuai dengan yang diharapkan. Biasanya tablet yang mengandung zat aktif dengan dosis kecil memerlukan zat pengisi yang banyak. Jika dosis besar maka pengisi sedikit atau tidak sama sekali.
Contoh : Avicel (mikrokristalin selulosa), Kalsium sulfat trihidrat, Kalsium fosfat dibasic, Laktosa dan Starch 1500.
B.        Adsorben
Adsorben harus memiliki titik leleh yang tinggi. Dengan titik leleh tinggi setelah terjadi lelehan pertama akan terbentuk massa yang bertitik leleh lebih tinggi. Manfaat adsorben: mencegah tablet basah oleh lelehan zat aktif, jika tablet basah maka tablet akan lengket dalam cetakan. Bekerja menyerap lelehan zat aktif.
Contoh : Avicel, Bolus alba, Kaolin, bentonit, Mg silikat, MgO, trikalsium fosfat dan Aerosil
C.        Pengikat
-     Pengikat bisa berupa gula dan polimer.
-     Pengikat yang berupa polimer alam: starch, gum (acacia, tragacanth, gelatin)
-     Pengikat yang berupa polimer sintetik: PVP, metilselulosa, etilselulosa, hidroksipropilselulosa
-     Bisa dengan cara kering/basah. Cara basah lebih sedikit membutuhkan bahan.
Contoh : Starch (amylum), Starch 1500, Amilum pragelatinasi, Gelatin, Larutan sukrosa, Larutan akasia, PVP, Selulosa (Metil selulosa , CMC Na, Etil selulosa), Polivinil alkohol, PEG 6000
D.        Disintegran
Fungsinya untuk memecah tablet. Cara pakai : saat granulasi dan paling baik saat sebelum dicetak.
Contoh : Starch (amylum), Starch 1500, Sodium starch glycolate (primogel, explotab), Selulosa (selulosa, metilselulosa, CMC, CMC-Na, Avicel, Acdisol), Gums (agar, pectin, tragacant, guar gum), Clays, Alginat (asam alginat dan Na-alginat).
E.        Lubrikan
-         Konsentrasi optimum: 1%
-         Fungsi: sebagai eksipien untuk menghilangkan gesekan/friksi saat pengempaan dan penarikan tablet ke luar cetakan.
F.         Glidan
-         Secara umum, fine silica > Mg stearat > talk murni
-         Talk mengandung sejumlah kecil Al silikat dan Fe. Harus hati-hati untuk zat aktif yang penguraiannya dikatalisis oleh Fe


III.7     Evaluasi Granul
1.   Granulometri
Granulometri adalah analisis ukuran dan repartisi granul (penyebaran ukuran-ukuran granul). Dalam melakukan analisis granulometri digunakan susunan pengayak dengan berbagai ukuran. Mesh terbesar diletakkan paling atas dan dibawahnya disusun pengayak dengan mesh yang makin kecil.
 Tujuan granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari ukuran granul. Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda. Granulometri berhubungan dengan sifat aliran granul. Jika ukuran granul berdekatan, aliran akan lebih baik. Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva distribusi normal.
2.   Bobot Jenis
a.   Bobot jenis sejati
b.   Bobot jenis nyata
c.   Obat jenis nyata setelah pemampatan
3.   Kadar Pemampatan
     %T =  Vo – V500
                      Vo
     %T  = Kadar pemampatan
     Vo   = Volume sebelum pemampatan
     V500 = Volume setelah pemampatan 500 x
   
       %T < 20 atau   ^V<20 ml              granul memiliki aliran yang baik
      Kadar pemampatan dan berat jenis dapat untuk menilai aliran.
4.   Aliran
a. Metode corong
Mengukur kecepatan aliran 100 g granul menggunakan corong kaca dengan dimensi sesuai. Metode corong dapat dilakukan dengan 2 cara :
a. cara bebas
b. cara tidak bebas (paksa) digetarkan
b. Metode sudut istirahat (α)
 Masukkan 100 g granul (tutup bagian bawah corong) kemudian tampung granul di atas kertas grafik. Hitung α.   Jika α
α
Sifat alir
25 – 30
sangat mudah mengalir
30 – 40
mudah mengalir
40 – 45
mengalir
>45
kurang mengalir

III.8     Evaluasi Tablet
1.   Visual /Organoleptik, meliputi bau, rasa dan rupa.
2.   Sifat fisika kimia
      1. Keseragaman ukuran
a.     Keseragaman tebal
b.    Keseragaman diameter
      2. Kekerasan
      3. Friabilitas
Prinsipnya adalah menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator selama waktu tertentu.
Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam proses pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan (bobot yang hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang sebanyak dua kali. Selanjutnya tentukan nilai rata-rata dari ketiga uji yang telah dilakukan.
      4. Keragaman sediaan
a.   Keragaman bobot
b.  Keseragaman kandungan
      5. Waktu hancur
      6. Uji kadar zat aktif

Penyimpanan Tablet
Tablet harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat dan terlindung dari cahaya, lembab, gesekan dan guncangan mekanik. Kondisi penyimpanan khusus harus dicantumkan dalam etiket. Tablet harus cukup bertahan selama proses penanganan, misal pada saat pengemasan dan transportasi, tanpa harus kehilangan intregitasnya.

Uji Waktu Hancur Tablet Dan Kapsul
Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet atau kapsul digunakan sebagai tablet isap atau dikunyah atau dirancang untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lebih dengan jarak waktu yang jelas di antara periode pelepasan tersebut. Tetapkan jenis sediaan yang akan diuji dari etiket serta dari pengamatan dan gunakan prosedur yang tepat untuk 6 unit sediaan atau lebih.




BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1     Alat Percobaan
1.      Labu takar
2.      Pipet  Volum 1,0 ml;2,0 ml;5,0 ml;10,0 ml
3.      Pipet  tetes
4.      Ayakan mesh 16 dan mesh 14
5.      Timbangan
III.2     Bahan Percobaan
1.      Parasetamol
2.      Parasetamol baku pembanding
3.      Amprotab
4.      PVP
5.      Laktosa
6.      Etanol
7.      Mg-stearat
8.      Talk
III.3     Prosedur Percobaan
1.      Menimbang semua zat yang dibutuhkan.
2.      Penambahan larutan pengikat pvp cara kering.
3.      Parasetamol, amilum kering, PVP, laktosa dicampur sampai homogen, kemudian  pelarut pengikat ditambahkan sedikit demi sedikit sampai diperoleh massa yang basah.
4.      Massa basah diayak dengan ayakan mesh 14 ( untuk tablet besar).
5.   Granul basah dikeringkan dengan Oven pada suhu 40 o C.
6.   Pemeriksaan kadar kelembaban dalam granul.
7.   Granul yang telah memenuhi persyaratan yaitu dengan kadar 2-5 % kadar air dalam granul. Granul diayak kembali menggunakan mesh 16.
8.   Granul ditimbang kembali.
9.   Evaluasi granul dilakukan dengan membandingkan kadar parasetamol dalam baku pembanding dalam berbagai konsentrasi, Granul Parasetamol yang di uji kadar secara Duplo.
10.             Uji Kecepatan alir dan sudut istirahat pada granul dilakukan.
11. Granul yang telah memenuhi persyaratan kemudian dicampur dengan fase luar ( talk dan amilum kering) di aduk selama 10 menit hingga homogen, kemudia ditambahkan mg stearat di aduk sampai homogen selama 2 menit.
12. Massa siap cetak di evaluasi dan ditabletasi dengan menggunakan punch yang sesuai dengan bobot yang telah ditentukan dari perhitungan hasil perolehan granul.
13. Tablet dievaluasi
      -  Organoleptis
      Tablet di amati secara visual baik itu bau rasa dan warna.
-          Sifat Fisiko kimianya
1.      Keseragaman ukuran : perbandingan diameter dan tebal tablet menggunakan jangka sorong yang dilakukan secara acak pada 20 tablet.
2.      Uji kekerasan dilakukan pada 20 tablet secara acak dengan menggunakan hardness tester dengan syarat tablet besar 7-10 kg/cm 2 ; tablet kecil 4-6kg/cm 2.
3.      Friabilitas: dilakukan secara acak terhadap 20-40 tablet tablet dibersihkan satu-satu dengan sikat halus lalu ditimbang dimasukkan ke dalam alat lalu diputar sebanyak 100 putaran. Lalu tablet dibersihkan lagi dan ditimbang. Tablet yang tidak mempunyai fiabilitas yang kurang dari 1 %.
4.      Keseragaman bobot
Dengan menimbang secara acak dari 20 tablet lalu ditimbang masing-masing dan tidak boleh dari tablet tersebut yang menyimpang dari bobot rata-rata.
5.      Uji keseragaman Bobot
30 tablet secara acak di ambil lalu 10 tablet ditimbang satu persatu lalu dihitung bobot rata-rata. Dari hasil penetapan kadar yang diperoleh seperti yang tertera dalam monografi dihitung jumlah zat aktif dari masing-masing dari 10 tablet dengan anggapan bahwa zat aktif tersebut terdistribusi homogen dilakukan triplo lalu di ambil rata-rata.


BAB V
HASIL PERCOBAAN

V.1  Penimbangan bahan
Zat / Bahan
Berat tiap tablet
Parasetamol
250 mg
PVP
25 mg
Amprotab
50 mg
Laktosa
135 mg
Etanol 95%
qs.
Magnesium Stearat
4,34 mg
Talk
8,68 mg
Amprotab
34,72 mg

V.2  Evaluasi Granul
·         Bobot Jenis (BJ) nyata
BJ nyata granul = 0,510 g/ml
·         Kadar mampat
Kadar mampat granul = 18,33 %
·         Kecepatan aliran
Kec. alir granul = 10 g/det

·         Kandungan lembab
Suhu                = 105oC
Waktu                         = 1 menit, 31 detik
Bobot awal      = 1 gram
Bobot akhir     = 0,970 gram
Kandungan air            = 3,0 %
·         Kadar zat aktif dalam granul
Larutan baku
No.
C ( ppm )
A ( Serapan )
1.
4
0,254
2.
6
0,395
3.
8
0,489
4.
12
0,715
5.
14
0,837
            Persamaan kurva kalibrasi :
            Y   = 0,057 X + 0,0361
            R2 = 0,9981
λmax. = 242,5 nm
Larutan sampel
250 mg parasetamol setara dengan 460 mg granul
No.
A ( serapan )
1.
0,3289
2.
0,3246

Serapan rata – rata = 0,3261
Kadar parasetamol dalam granul adalah 254,96 mg ( 101,984 % )


V.3  Evaluasi Tablet
·         Organoleptis
Rupa                : Bagus, permukaan tidak cacat dan tidak terdapat bintik-bintik noda.
Bau                  : Khas
Rasa                : Pahit
·         Sifat fisika kimia
Ø  Keseragaman ukuran
Diameter rata-rata tablet         = 1,21075 cm
Tebal rata-rata tablet               = 0,320 cm
Diameter tablet          
                             = 3,78 kali tebal tablet
 
No.
Diameter tablet
Tebal tablet
1
1,211 cm
0,32 cm
2
1,211 cm
0,32 cm
3
1,211 cm
0,32 cm
4
1,211 cm
0,32 cm
5
1,211 cm
0,32 cm
6
1,211 cm
0,32 cm
7
1,211 cm
0,32 cm
8
1,211 cm
0,32 cm
9
1,211 cm
0,32 cm
10
1,211 cm
0,32 cm
11
1,211 cm
0,32 cm
12
1,211 cm
0,32 cm
13
1,211 cm
0,32 cm
14
1,211 cm
0,32 cm
15
1,211 cm
0,32 cm
16
1,211 cm
0,321 cm
17
1,212 cm
0,322 cm
18
1,205 cm
0,322 cm
19
1,211 cm
0,322 cm
20
1,211 cm
0,322 cm



Ø 
Kekerasa rata-rata tablet = 3,55 kg/cm2
 
Kekerasan
No.
Kekerasan (kg/cm2)
1
4
2
3,5
3
4
4
4,5
5
3
6
3
7
4
8
3,5
9
3
10
3
11
3,5
12
3,5
13
3,5
14
3,5
15
3,5
16
3,5
17
3
18
3,5
19
4
20
4






Ø  Friabilitas
Friabilitas tablet parasetamol = 0,286 %
Ø 
Rata- rata bobot tablet                        = 0,5287 gram
Simpangan baku                      = 0,0117

 
Keseragaman bobot
No.
Bobot tablet (gram)
1
0,5345
2
0,5198
3
0,5394
4
0,5235
5
0,4937
6
0,5281
7
0,5341
8
0,5195
9
0,5250
10
0,5438
11
0,5356
12
0,5297
13
0,5128
14
0,5421
15
0,5216
16
0,5313
17
0,5301
18
0,5395
19
0,5358
20
0,5358



Ø  Keragaman Bobot
No.
Bobot tablet ( mg )
% kadar parasetamol
1
529,9
111.1
2
529,2
110.95
3
520,1
109.04
4
528,3
110.76
5
498,5
104.51
6
521,3
109.29
7
539,1
113.03
8
515,7
108.12
9
528,3
110.76
10
517,1
108.41

Ø  Waktu hancur
Jumlah yang di uji       = 6 tablet
Waktu                                     = 4 menit 22 detik


BAB VI
PEMBAHASAN


Pada percobaan pembuatan tablet parasetamol dengan metode granulasi basah digunakan formula standar (Lihat di Praformulasi). Parasetamol memiliki sifat higroskopis maka dipilih cara granulasi basah dengan pengikat PVP dan etanol sebagai pengembang PVP sehingga tidak terlalu bermasalah dalam pengeringan granul. Pencampuran dan peracikan fase dalam harus benar-benar homogen karena akan mengakibatkan tidak meratanya kandungan zat aktif pada granul dan tablet yang dihasilkan. Massa yang telah bisa dikepal kemudian diseragamkan Ukuran granulnya dengan ayakan Mesh No. 14. Pada proses pengeringan granul disimpan pada suhu 500C selama ± 15 menit, namun pada kenyataannya granul dikeringkan lebih dari setengah jam sehingga menyebabkan granul mengeras dan sulit diayak pada Mesh 16. Oleh karena itu jumlah granul kering yang diperoleh menyusut cukup banyak.
Evaluasi granul terutama dilakukan untuk formula baru atau pada modifikasi formula. Untuk formula yang sama evaluasi granul tidak perlu dilakukan. Evaluasi granul yang dilakukan pada saat percobaan meliputi yang telah dicantumkan pada hasil percobaan. Penentuan kadar fines (serbuk halus) tidak dilakukan karena tidak tercantum dalam prosedur percobaan selain itu juga karena ketiadaan alat.
Kandungan lembab diukur dengan pemanasan (gravimetric) menggunakan alat Moisture Balance. Diperoleh kandungan lembap granul 3 %. Kandungan lembap yang baik adalah 2% - 5%, hal ini menunjukkan kandungan lembap granul masih dalam batas wajar.
Kecepatan alir granul yang baik menurut pustaka adalah lebih dari 4 g/detik. Hasil yang diperoleh pada percobaan adalah 10 g/detik. Penggunaan talk dapat membantu dalam meningkatkan kecepatan alir granul.
Penggunaan Mg stearat sebagai lubrikan maksimal 2 % karena jika terlalu besar akan terjadi laminating. Masalah- masalah yang dapat muncul selama proses pencetakan tablet seperti Laminasi, Capping, Chipping, Cracking, Picking, dan Sticking tidak ditemukan, hal menunjukkan formula yang digunakan sudah baik.
Bobot parasetamol dalam granul yaitu 5,0991 µg/ml yang diperoleh dengan mensubstitusikan pada persamaan
Persamaan tersebut diperoleh dari kurva kalibrasi baku pembanding. Pada metode percobaan yang ideal, metode penentuan kadar baku pembanding parasetamol yang seharusnya digunakan adalah menurut Farmakope Indonesia IV. Yaitu dengan menggunakan baku pembanding Parasetamol BPFI. Karena harga Parasetamol BPFI yang asli harganya cukup mahal maka digunakan metode kurva kalibrasi.
Kadar granul yang yang diperoleh sebesar 101,984 %, namun pustaka yang digunakan tidak menyebutkan persyaratan kadar granul sebagai acuan kadar yang masih diperbolehkan. Secara teoritis bobot parasetamol / tablet adalah 509,92 mg.
Evaluasi Tablet. Tablet secara visual tidak telihat jika terjadi ketidakhomogenan zat warna karena memang tidak menggunakan zat warna. Bebas dari bintik-bintik dan noda yang mengganggu.
Data friabilitas digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Friabilitas diukur dengan friabilator. Untuk tablet yang baik (dipersyaratkan di Industri), bobot yang hilang tidak boleh lebih dari 1 %. Dai 6 tablet yang digunakan untuk uji friabilitas, tidak ada tablet yang hancur atau terbelah setelah proses pengujian sehingga dapat diikutsertakan dalam perhitungan. Friabilitas tablet nyata adalah 0,286 %. Artinya friabilitas tablet kami sangat bagus.
Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa sedia­an atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna karena sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas. Waktu hancur tablet nyata adalah 4 menit 22 detik.
Data yang digunakan untuk pengujian Keseragaman Bobot adalah simpangan baku dari rata-rata bobot tablet. Keseragaman bobot yang baik adalah yang memiliki simpangan baku mendekati nol. Simpangan baku bobot rata-rata tablet adalah 0,0117. Dapat dinyatakan bahwa keseragaman bobot tablet kami merata/baik.
Persyaratan FI IV Kadar tablet parasetamol mengandung parasetamol C8H9NO2, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh kadar masing-masing  dari 10 tablet adalah dengan range kadar antara 92,22% - 99,73%. Artinya dari kesepuluh tablet yang digunakan untuk pengujian, kesemuanya memenuhi syarat menurut FI IV.

 
BAB VII
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan pembuatan tablet parasetamol dengan metode granulasi basah dapat disimpulkan :
Tiap tablet mengandung :
1.      Formula yang digunakan adalah
Fase dalam ( 92% )
Parasetamol                             250 mg
PVP                                         25 mg
Amprotab                                50 mg
Laktosa                                   135 mg
Etanol 95%                             qs.
Fase luar ( 8% )
Magnesium stearat                  4,34 mg
Talk                                         8,68 mg
Amprotab                                34,72 mg
2.      Evaluasi granul meliputi : granulometri, bobot jenis nyata, kadar mampat, kecepatan aliran, kandungan lembab dan penentuan kadar zat aktif dalam granul secara keseluruhan dengan menggunakan formula diatas menunjukkan hasil yang diperoleh memuaskan.
3.      Evaluasi tablet meliputi : Organoleptis, sifat fisiko kimia, kekerasan, friabilitas, keseragaman  bobot keseragaman sediaan dan penentuan kadar zat aktif dalam tablet secara keseluruhan menunjukkan hasil yang baik.
4.      Kadar nyata 10 tablet parasetamol sampel yang diuji berada dalam rentang 104.51 % - 113.03 %. Rata-rata kadar dari 10 tablet tersebut adalah 109.59 %. Memenuhi Syarat.




2 komentar:

tormented mengatakan...

tanya : kenapa massa lembab diayak dengan mesh 6 - 12 dan setelah kering diayak dengan mesh 14 - 18

Cyber.i-Ndra mengatakan...

massa lembab digunakan mesh 6-12 karena granulnya lebih kasar n lebih gede , kalau udah kering granul kan lebih halus dan ukuran partikel lebih kecil makanya pake mesh 14-18